Perpus Muter Kampus Putaran 3 Etape 5 Transformasi Ruang Baca di Era AI: Menembus Batas Fisik, Membangun Tradisi Berpikir Kritis di FIP UNESA
SURABAYA — Ruang baca di
perguruan tinggi tidak lagi sekadar tempat berderetnya rak buku yang hening,
melainkan pusat inkubasi gagasan dan benteng pertahanan integritas akademik.
Pesan inilah yang mengemuka dalam gelaran Perpus Muter Kampus Putaran 3
Etape 5 yang berlangsung secara melalui platform Zoom dan kanal YouTube Live.
Diikuti oleh lebih dari 122
peserta melalui platform Zoom dan kanal YouTube Live, ajang ini
menegaskan komitmen UPT Perpustakaan Universitas Negeri Surabaya dalam
meredefinisi peran perpustakaan di era pesatnya perkembangan teknologi dan
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Navigasi Era AI dan Etika
Akademik
Acara yang dipandu oleh Diana
Widyati, S.Sos. ini dibuka secara resmi oleh Dekan FIP UNESA, Bapak Prof. Dr.
Mochamad Nursalim, M.Si. Dalam sambutannya, Beliau menyoroti tantangan besar
yang dihadapi civitas akademika di tengah ledakan informasi digital.
Perpustakaan Muter Kampus bukan
hanya sekedar program pelayanan, namun merupakan simbol perubahan. Perpustakaan
menjemput pengguna, pengetahuan mendekati pembelajar, pelayanan akademik
mendekati kebutuhan civitas akademika."Perpustakaan saat ini telah hadir
mendekatkan layanan dan mendekatkan pengetahuan. Di tengah derasnya arus
informasi dan maraknya penggunaan AI, mahasiswa harus ekstra hati-hati serta
mampu mempertanggungjawabkan karya ilmiahnya secara moral dan
intelektual," tegas Prof. Nursalim.
Beliau menekankan bahwa
perpustakaan yang berkualitas adalah perpustakaan yang tidak hanya menyediakan
literatur, tetapi juga aktif membangun budaya membaca dan tradisi berpikir
mendalam. "Jangan hanya menjadi mahasiswa yang pandai mencari jawaban, Jadilah
mahasiswa yang pandai merumuskan pertanyaan berkualitas yang berkualitas,
karena kualitas akademisi tidak hanya ditentukan kemampuan menjawab namun juga
kualitas pertanyaan yang diajukan" tambahnya.
Terapi Naratif: Mereset Diri
Melalui Cerita Kehidupan
Menambah kedalaman substansi
acara, pemateri Bapak Muhamad Afifuddin Ghozali, S.Pd., M.Couns., Gr., hadir
membawakan materi bertajuk “Membangun Ulang Diri Dari Cerita yang Tidak
Disadari”.
Mengangkat metode Terapi
Naratif yang dipelopori oleh Michael White dan David Epston, Bapak Muhamad
Afifuddin Ghozali, S.Pd., M.Couns., Gr. mengajak mahasiswa memahami bagaimana
narasi diri memengaruhi pola pikir dan tindakan akademik mereka. Ia
menggarisbawahi empat pilar utama:
- Manusia adalah pembuat makna atas setiap
peristiwa yang dialaminya.
- Identitas dibentuk oleh cerita kehidupan
yang dipelihara dalam pikiran.
- Diri tidak bersifat tetap/kaku, melainkan
terus berkembang.
- Identitas berubah mengikuti konteks dan
pengalaman baru.
Melalui sesi ini, peserta diajak
menyadari bahwa literasi bukan hanya tentang membaca teks luar, tetapi juga
kemampuan membaca dan merevisi "narasi dalam diri" untuk pertumbuhan
pribadi dan akademis.
Sinergi Ekosistem Digital dan
Lonjakan Literasi FIP
Gagasan transformasi perpustakaan
ini diperkuat oleh pemaparan Kepala UPT Perpustakaan UNESA, Prof. Drs. Suroto,
M.A., Ph.D. Beliau menekankan pentingnya sinergi yang solid antara UPT
Perpustakaan, pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, hingga Komite Perpustakaan.
Sinergi tersebut terbukti
membuahkan hasil nyata. Hingga pertengahan September 2026, FIP UNESA mencatat
angka kunjungan perpustakaan yang luar biasa: 8.348 kunjungan atau
mencapai 107,4% dari total 7.772 mahasiswa aktif. Selain itu, sebanyak
98 mahasiswa telah terlibat aktif dalam program bedah dan review buku.
Untuk menunjang capaian tersebut,
UNESA terus mengoptimalkan ekosistem layanan digital seperti:
- IOPAC (Integrated Online Public Access
Catalog)
- Digilib & E-Book UNESA
- RemoteXS
- SIPENA & VMSUL
"Kami mendorong program review
buku agar terintegrasi langsung dengan proses pembelajaran. Dosen menetapkan
buku rujukan, lalu mahasiswa membedah dan mereviewnya. Dengan cara ini, ruang
baca benar-benar menjadi ruang tumbuh akademik—tempat mahasiswa menemukan
pengetahuan, menguji gagasan, berkolaborasi, dan melahirkan karya," jelas
Prof. Suroto.
Pembenahan Sarana dan Koleksi
Berkelanjutan
Pada kesempatan yang sama,
perwakilan Komite Perpustakaan, Husni Mubarok, S.Pd., M.Sc., Ph.D., memaparkan
pembaruan sarana dan prasarana di lingkungan Ruang Baca Fakultas Bahasa dan
Seni (FBS) sebagai bagian dari penguatan jejaring perpustakaan kampus. Saat
ini, fasilitas tersebut terus ditingkatkan dengan dukungan koleksi referensi
yang mencakup ratusan buku berbahasa Inggris dan ribuan koleksi berbahasa
Indonesia untuk menunjang riset multidisiplin.
Merawat Tradisi Literasi Masa
Depan
Melalui rangkaian Perpus Muter
Kampus, UNESA membuktikan bahwa perpustakaan dapat terus relevan dan
menjadi jantung kehidupan akademik perguruan tinggi. Kombinasi antara
digitalisasi layanan, penguatan etika ilmiah di era AI, serta pendekatan
humanis menjadi resep utama dalam mencetak generasi pembelajar yang kritis dan
berintegritas.
Bagi civitas akademika atau
masyarakat umum yang tidak sempat mengikuti jalannya kegiatan secara langsung,
siaran ulang dapat diakses melalui kanal YouTube resmi UPT Perpustakaan UNESA
Share It On: